Catatan dari Negeri Antara
Di penghujung studi S2 di sebuah kota kecil nan indah bernama Clausthal-Zellerfeld, kembali aku menerima kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Keberadaanku di kota kecil ini juga merupakan sebuah kebesaran-Nya, ditambah lagi dengan kejutan di ujung masa penantianku untuk mulai menulis thesis.
Aku hanyalah mahasiswa biasa dengan kemampuan yang tidak tergolong cerdas dan pintar. Kemampuan akademikku hanya cukup untuk sekedar mendapatkan sebuah ijazah dari salah satu kampus teknik tertua di Indonesia. Dengan berbekal ijazah dan transkrip nilai yang hanya menyentuh level 2.75 aku bisa menginjakkan kaki di bagian lain dari bumi Allah (Jerman) tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.
Mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah impian bagi sebagian lulusan baru di Indonesia. Persaingannya pun sangat ketat dan berliku dan membutuhkan perjuangan yang sangat panjang. Namun itu semua hanya berlaku apabila kita hanya mengandalkan diri sendiri, tanpa melibatkan kehadiran Tuhan. Mungkin ini hanyalah pendapat pribadi, tetapi inilah realitas yang aku rasakan selama tidak melibatkan Tuhan, maka jalan panjang dan berlikulah yang sering aku temui untuk mencapai keinginanku.
Terima kasih untuk ustad Yusuf Mansur yang saya kenal sejak setahun yang lalu yang sudah memberikan ilmu tentang kebesaran Tuhan, dan hikmah sedekah. Secara tidak langsung saya berkenalan dengan beliau melalui salah satu TV nasional yang dapat saya ikuti dari Jerman berkat perkembangan teknologi internet.
Jerman memiliki julukan sebagai “ Land of Ideas”, negeri dimana setiap orang punya kesempatan untuk menggali dan mengembangkan idenya. Tapi bagiku Jerman adalah “Kamp Pelatihan” untuk menempa diri menjadi Muslim yang benar-benar menegakkan kalimat “La ila ha illallah Muhammad-Ar-rasulullah”. Disinilah aku belajar tauhid disaat aku benar-benar sendiri dan jauh dari keluarga kecilku. Disinilah aku belajar memberi sedekah disaat kondisi keuanganku yang serba sulit dan terbelit hutang. Disinilah aku belajar untuk sujud menjaga shalatku yang wajib 5 waktu dan menjaga shalat khususku di malam hari dan dhuha. Semoga Allah menjauhkan aku dari sikap riya dalam menulis catatan ini, tujuanku tak lain hanyalah untuk berbagi kebesaran Allah, dan hanya memohon kepada Allah. Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis catatan ini, cuma mungkin baru kali ini jariku lancar menari-nari diatas sebuah notebook yang terbeli dengan jalan hutang dan alhamdulillah sudah dibayarkan oleh Allah Swt.
Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Teknik Perminyakan di TU Clausthal. Beasiswa ini aku dapatkan dari Pemerintah Aceh yang sedang gencar-gencarnya mengirimkan generasi mudanya untuk belajar ke luar negeri. Untuk kantong mahasiswa yang masih single beasiswa yang diberikan lebih dari cukup dan bisalah untuk keliling-keliling eropa dengan metode backpacker. Tapi bagi mahasiswa yang udah “triple” plus satu, beasiswa ini masih cukup juga walaupun pas2an bisa menghidupi diriku di Jerman dan 3 orang tanggunganku di Indonesia.
Teori menjadi orang kaya yang biasa kita kenal semenjak dari kecil berasal dari sebuah kata pepatah “hemat pangkal kaya” atau “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”. Teori ini agaknya tidak berlaku dan banyak membantu untuk aku selama di Jerman. Karena sekeras apapun aku menghemat pengeluaran toh sampai sekarang belum menjadi orang kaya. Jadi teorinya harus diubah, untuk menjadi kaya maka harus kerja keras dan mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Bukan menghemat dan menyiksa diri dengan tidak merasakan jerih payah yang sudah kita raih.
Oleh karenanya berbagai macam lakon pekerjaan untuk mendulang uang lebih aku cari peluangnya. Mulai dari membuka jasa pengiriman uang dari Jerman ke Indonesia hingga membanting tulang menjadi buruh lepas harian. Tetapi ternyata hasilnya juga tidak bisa membuat aku kaya dan bernafas dengan lega.
Sampai di titik inilah aku baru tersadar betapa aku mengejar dunia dan meninggalkan Tuhanku, maka manusia akan selalu tidak merasa puas dan bersyukur atas karunia-Nya. Padahal Dia-lah yang menjamin dan memberi rezeki, Dialah yang menurunkan hujan, Dialah yang menciptakan predator dan buruan. Semua yang ada di alam ini sudah memiliki jatah rezekinya masing-masing dari binatang yang kecil seperti semut hingga manusia yang paling sempurna. Dan mengapa kita tidak meminta kepada-Nya yang menguasai atas segala ciptaannya. Mengapa kita mengemis-ngemis kepada manusia yang hanya merupakan ciptaan-Nya.
Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika Aku sedang dalam proses pengerjaan “ Project “ di semester 3. Di saat-saat itu tiba-tiba ada yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan posisi untuk internship dalam rangka penulisan master thesisku. Aku pun sangat bersemangat mendengar tawaran dari beliau, sebut sajalah si Fulan. Dengan antusias dan bersemangat aku mendengarkannya dan bahkan aku juga rela menjadi volunteer hanya untuk bisa mendapat nilai plus di hadapannya. Namun, ternyata aku salah terlalu berharap kepada manusia. Si Fulan adalah manusia biasa yang lemah dan tak luput dari salah dan berbagai sifat-sifat lemah manusia. Ternyata dia keliru memberikan informasi, dan akhirnya harapanku untuk mendapatkan kunci untuk posisi internship itu sirna. Kekecewaan yang ada terpatri di dalam sanubari kecilku yang paling dalam, betapa aku terlalu cepat pecaya hanya kepada seorang manusia. Mengapa tak aku adukan saja kepada Tuhan yang pencipta manusia, penguasa alam semesta, mengapa harus berharap kepada hamba Tuhan. Dan mulai detik itu aku berjanji lagi dalam diriku, bahwa aku hanya boleh berharap kepada Tuhan semata. Aku harus memurnikan kembali keyakinanku terhadap Tuhan. Hanya Dia yang aku sembah dan kepadanyalah aku minta pertolongan.
Kembali berbicara mengenai Tuhan dan eksistensinya. Dia terasa dekat dengan manusia, tatkala manusia ditimpa bencana, masalah maupun kesulitan. Sehingga sering orang mengeluarkan komentar “ ketika sedang susah aja, baru ingat sama Tuhan, dulu-dulu kemana Boy”. Sepintas kalimat ini ada benarnya, tetapi ternyata kalimat ini adalah salah total menurut pemahamanku. Mari kita balik sintesa kalimatnya menjadi “ Kalau dalam keadaan susah, bermasalah, gelisah, kita tidak ingat sama Tuhan dan bahkan mencari pertolongan ke kiri dan kanan kepada selain Tuhan, kepada manusia, atau mungkin kepada makhluk Tuhan lainnya, lantas mau kapan kita ingat sama Tuhan? Apa ketika kita sudah mati baru ingat sama Tuhan. Padahal Tuhan itu sebenarnya sangat dekat dengan manusia, seperti tertuang dalam firmannya “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS : Al-Baqarah 186)”. Setiap manusia ditimpa kesusahan, sakit, musibah, sebenarnya disaat itulah Tuhan “kangen” sama manusia. Dia rindu kepada manusia, sehingga Dia memberikan sedikit peringatan agar manusia kembali mengingatnya dan kembali ke jalannya yang lurus. Atau bisa jadi disaat itu Dia ingin menguji hamba-hambanya yg bertakwa dengan sedikit guncangan di dalam kehidupannya. Tinggal kita nilai sendiri apakah Tuhan kangen sama kita atau Tuhan ingin menguji kita. Maka beruntunglah mereka-mereka yang diuji oleh Tuhannya sehingga punya kesempatan untuk naik kelas. Tetapi lebih beruntung lagi mereka-mereka yang “dikangeni oleh Tuhan” sehingga mereka punya kesempatan untuk kembali mengevaluasi diri, sehingga tidak terus hanyut dalam kehidupan dunia yang hanya sementara ini.
Kembali ke ceritaku, tatkala kekecewaan sudah mulai mereda, dan kembali tersadar aku masih punya Tuhan yang maha kuasa. Aku harus memulai segala usaha/ikhtiarku dengan menyebut nama-Nya. Bukan hanya dengan lisan tetapi harus dengan seluruh jiwaku, ragaku bahkan alam bawah sadarku pun harus aku sadarkan bahwa hanya Dia Tuhan semesta alam, tiada Tuhan selain Dia. Dia Tuhan yang aku sembah dan Dialah tempat aku memohon pertolongan. Aku harus memulainya dengan bermunajat dan memohon ampunan-Nya terlebih dahulu, karena sebagai manusia aku telah banyak lalai dalam hidup dan berjalan di dunia ini sehingga mengalami banyak kerugian. Seperti dalam firmanya “ Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (QS : Al-Asr 1-3)”.
Semester 4 sudah di depan mata, sementara bayangan untuk topic thesis belum terpikirkan sedikitpun.
…….bersambung