Catatan Sebuah Mimpi- Chapter 1.2
Posted by randomwave on October 15, 2011
1 minggu telah berlalu sejak aku mengalami mimpi yang tak berhasil ku rekam tersebut. Semuanya serba kabur dan tak jelas alur ceritanya, seakan sebuah pesawat televisi hitam putih yang menampilkan gambar silih berganti dan tak memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Andai saja saat ini ada alat yang dapat merekam semua mimpi anak manusia yang terjadi, aku pun tidak harus bersusah payah menulis nya dalam catatan ini.
Suhu di kamarku sekarang menunjukkan 25 C , itulah angka yang aku baca dari sebuah jam meja digital kecil yang dilengkapi dengan pengukur temperatur digital pula. Jam ini aku dapatkan sebagai hadiah natal dari seseorang yang sangat mengagungkan disiplin dan kerja keras. Semuanya serba terukur bagi dirinya, dan mungkin tak sedetikpun waktu yang tidak diukur dan dihitung olehnya. Bagiku terasa sangat berat sebenarnya di awal-awal kerjasamaku dengannya, semua hal yang dilakukan harus serba sempurna dan terukur. Dia sangat mengutamakan kesempurnaan, karena menurutnya dengan menjadi yang terbaik dan sempurna, maka rezeki akan mudah datang dengan sendirinya. Setidaknya aku mulai belajar hal2x kecil yang selama ini tak pernah mendapatkan perhatian dalam benakku. Menjadi orang yang disiplin dan sempurna ternyata tidaklah mudah, semuanya harus dibangun dengan kebiasaan dan budaya sehari-hari. Semoga dengan bekal jam kecil ini aku dapat meningkatkan taraf hidupku menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini seperti pesan sang Nabi, bahwa manusia yang beruntung adalah manusia yang lebih baik dari hari ini, dan sangatlah rugi apabila keadaan kita hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya.
